KBRN, Jakarta: Kegiatan Program Deteksi Dini Pada Lutut Penyandang Thalasemia disebut dalam rangka membantu pemerintah mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs) Nomor 3 tentang kesehatan yang baik dan kesejahteraan serta Nomor 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan bersama.
Koordinator Corporate Social Responsbility (CSR) PT Insight Investments Management (INSIGHT), Suluh Tripambudi Rahardjo, mengungkapkan, bahwa selaku inisiator, pihaknya menggandeng Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM), Yayasan Thalasemia Indonesia (YTI), Sahabat Thalasemia Indonesia serta Perhimpunan Subspesialis Radiologi Anak Indonesia (PSRAI).
“Acara program deteksi dini pada tulang lutut penyandang Thalasemia ini sesuai dengan komitmen perusahaan kami yaitu transforming investments into social impact. Sambil berinvestasi di produk kami, para investor juga diajak untuk memberikan dampak sosial. Semoga program ini dapat menginspirasi dan memberikan dampak baik yang nyata,” ungkapnya kepada wartawan di Jakarta, seperti dikutip RRI.co.id, Selasa (19/10/2021).
Thalasemia sendiri adalah kondisi kelainan darah yang diturunkan dari salah satu atau kedua orang tua kepada si anak, yang membuat penyandangnya mengalami anemia atau kurang darah.
Keluhan yang dirasakan penyandang adalah cepat lelah, mudah mengantuk, hingga sesak nafas.
Selain membantu pemerintah, Suluh menjelaskan, tujuan dari diadakan acara ini adalah juga untuk mencegah resiko kecacatan akibat komplikasi penyakit dan melakukan pencegahan kelainan sendi dan tulang akibat terapi deferiprone jangka panjang pada penyandang Thalasemia mayor.
Anggota PSRAI sekaligus dokter pemeriksa dalam program tersebut, Tigor Yehezkiel mengatakan, bahwa Thalasemia merupakan penyakit paling sering terjadi dan menyebar secara massif di Indonesia.
Saat ini deteksi dini kerusakan sendi dan tulang akibat komplikasi Thalassemia memerlukan biaya yang tinggi.
“Hal ini yang menjadi concern saya untuk membuktikan bahwa alat USG dapat menjadi alternatif pilihan untuk mendeteksi dini kelainan ini dengan sensitifitas serta spesifisitas yang tinggi disertai harga yang terjangkau agar masyarakat yang kurang mampu secara ekonomi dapat terbantu,” katanya.
Lebih lanjut, Sekretaris Pengurus YIIM Dewi Astari berharap, program ini dapat membantu keluarga dan penyandang Thalasemia yang kurang mampu secara ekonomi, mengingat biaya kesehatan pemeriksaan yang sangat mahal dibebankan oleh keluarga penyandang.
Sekadar informasi, kegiatan program pemeriksaan ini dilaksanakan selama dua hari berturut-turut di Hotel Mercure Gatot Soebroto Jakarta, yang ditujukan kepada 50 anak dengan kriteria usia 2-17 tahun penyandang Thalasemia mayor.
Pada hari pertama yakni Sabtu (16/10/2021), dokter memeriksa lutut 24 pasien anak yang berasal dari tiga rumah sakit yaitu RS Harapan Bunda Pasar Rebo, RS Hermina Jatinegara dan RSUP Fatmawati.
Pada hari kedua, Minggu (17/10/2021) pemeriksaan bagi 25 pasien anak asal dari dua RS Harapan Kita Slipi dan RS Hermina Kemayoran.
Selama proses pemeriksaan, penerima manfaat yakni para anak penyandang Thalasemia didampingi langsung oleh wali atau orang tua pasien.
Setelah pemeriksaan, seluruh penerima manfaat mendapatkan hasil pemeriksaan berupa ekspertise USG serta saran dokter, hasil swab antigen dan makanan sehat. (Miechell Octovy Koagouw)