Agustus 7, 2026
Menjaga Mangrove, Menguatkan Kehidupan Masyarakat Pesisir
Pelestarian mangrove bukan sekadar menanam bibit pohon di pesisir, melainkan [...]

Pelestarian mangrove bukan sekadar menanam bibit pohon di pesisir, melainkan memastikan seluruh ekosistem dapat tumbuh dan menghidupkan masyarakat di sekitarnya. Gagasan tersebut menjadi intisari dalam talkshow bertajuk “Mangrove dan Kehidupan yang Tumbuh Bersama: Kolaborasi Pelestarian Mangrove untuk Pesisir Berdaya” yang diselenggarakan Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM) pada rangkaian Festival Inspirasi 2026 di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, Jumat, 7 Agustus 2026.
Diskusi yang dipandu oleh Galih Hakim Antarnusa, Senior Advisor Mangrove Jakarta dari Yayasan Mangrove Indonesia Lestari, mempertemukan tiga narasumber lintas sektor: Barnard Ceisaro Purba (Pengelola Ekosistem Laut dan Pesisir Ahli Muda Direktorat Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kementerian Kelautan dan Perikanan), Dr. Dolly Priatna (Direktur Eksekutif Belantara Foundation), serta Toufik Alansar (Manager Program Kelautan KEHATI).
Rehabilitasi Ekologis: Bukan Sekadar Menanam Bibit
Para narasumber sepakat bahwa keberhasilan rehabilitasi mangrove tidak dapat diukur sebatas angka penanaman seremonial. Dr. Dolly Priatna menegaskan pentingnya pendekatan Ecological Mangrove Rehabilitation (EMR), yakni memulihkan hutan bakau dengan memahami kondisi hidrologi, substrat tanah, serta pasang surut kawasan terlebih dahulu.
Pendekatan EMR memastikan habitat alami kembali berfungsi sehingga bibit mangrove dapat tumbuh secara mandiri dan berumur panjang. Sebaliknya, penanaman tanpa analisis ekologis sering kali berujung pada kegagalan tumbuh bibit akibat salinitas atau arus air yang tidak cocok.
Dari sisi regulasi, Barnard Ceisaro Purba memaparkan kerangka kebijakan pemerintah dalam mengawal tata ruang pesisir dan wilayah pulau-pulau kecil. Pemulihan kawasan mangrove membutuhkan penetapan zonasi yang terarah dan kepatuhan hukum agar lahan pesisir terlindungi dari alih fungsi destruktif.
Karbon Biru dan Kesejahteraan Masyarakat Pesisir
Hutan mangrove memegang fungsi strategis sebagai benteng alami dari abrasi gelombang laut, penyedia habitat biota perairan, dan penyimpan karbon biru (blue carbon) yang efektif menekan emisi gas rumah kaca. Namun, kelestarian bentang alam ini tidak akan tercapai tanpa menempatkan masyarakat lokal sebagai pelaku utama penjaga pesisir.
Toufik Alansar menggarisbawahi pentingnya merancang program konservasi yang berdampak langsung pada kesejahteraan warga. Ketika masyarakat mendapatkan manfaat nyata melalui pemanfaatan hasil hutan non-kayu, ekowisata, maupun budidaya perikanan ramah mangrove (silvofishery), mereka secara swadaya akan merawat ekosistem tersebut dari ancaman kerusakan.
Generasi Muda dan Solusi Digital untuk Konservasi
Sebanyak 35 peserta dari kalangan pegiat lingkungan, akademisi muda, dan perwakilan komunitas mengikuti sesi tanya jawab secara aktif. Diskusi menyoroti pemanfaatan teknologi geospasial, citra satelit, dan pemantauan digital berbasis komunitas yang kini semakin mudah diakses oleh generasi muda untuk memetakan kesehatan tutupan mangrove.
Rangkaian talkshow ditutup dengan penyerahan sertifikat apresiasi oleh Ketua Pengurus YIIM Normansyah Kusuma kepada seluruh pembicara dan moderator, dilanjutkan sesi foto bersama seluruh peserta.
Salam Inspirasi!
Dokumentasi Foto Tambahan








