Agustus 8, 2026

Menjaga Bumi dan Pangan melalui Sistem yang Tangguh dan Berkelanjutan

Ketahanan pangan bukan sekadar perihal ketersediaan pasokan beras dan sayur [...]

Informasi Program

Nama Program

Festival Inspirasi 2026: Talkshow Sesi 3 Ketahanan Pangan (Menjaga Bumi dan Pangan melalui Sistem yang Tangguh dan Berkelanjutan)

Tanggal

Agustus 8, 2026

Fokus Program

SDGs

Mitra Kolaborator

Penerima Manfaat / Peserta

Sebanyak 30 orang peserta dari lembaga filantropi, perguruan tinggi, komunitas lingkungan hidup, dan masyarakat umum.

Lokasi

Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Aktivitas Utama

Diskusi panel interaktif mengenai krisis iklim dan kerentanan pangan, pemaparan inovasi Kebun Gizi Apung dan penguatan pangan lokal, pentingnya pelibatan perempuan dalam gizi keluarga, edukasi penerapan pertanian regeneratif untuk memulihkan kesuburan tanah, sesi tanya jawab bersama peserta, penyerahan sertifikat apresiasi kepada narasumber dan moderator, serta sesi foto bersama.

Capaian yang Diharapkan

Meningkatnya kesadaran kolektif mengenai urgensi penguatan ketahanan pangan di tengah krisis iklim, tersosialisasikannya praktik adaptasi kebun gizi apung dan pangan lokal bagi komunitas rentan, terbangunnya komitmen kolaborasi lintas sektor dalam mendukung pertanian regeneratif yang ramah lingkungan, serta terjalinnya kemitraan berkelanjutan antarlembaga penggiat lingkungan.

Share the word!
Sesi diskusi panel talkshow ketahanan pangan Festival Inspirasi 2026 bersama Dr Andre Notohamijoyo, Nurhadi Al Rasyid, Fransisca Novita, dan Koes Afifah Qurratuaini Putri

Ketahanan pangan bukan sekadar perihal ketersediaan pasokan beras dan sayur untuk hari ini, melainkan ketahanan sistem pangan masyarakat saat berhadapan dengan krisis iklim yang semakin nyata. Persoalan krusial ini menjadi pusat perhatian dalam sesi talkshow “Menjaga Bumi, Menjaga Pangan: Solusi Bersama Menguatkan Ketahanan Pangan di Tengah Tantangan Lingkungan” pada perhelatan Festival Inspirasi 2026 di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Forum dialog ini mempertemukan tiga narasumber berpengalaman lintas disiplin: Dr. Andre Notohamijoyo, S.Sos., MSM. (Ketua Ikatan Alumni Sekolah Ilmu Lingkungan Universitas Indonesia / ILUNI SIL UI), Fransisca Novita, S.Si., M.Si. (Livelihood Resilience Manager Wahana Visi Indonesia), dan Nurhadi Al Rasyid, S.T. (Head of Agriculture Solutions Yayasan Edu Farmers International). Jalannya pertukaran gagasan dipandu oleh Koes Afifah Qurratuaini Putri, S.E., Research and Policy Associate CIPS Indonesia.

Krisis Iklim dan Kerentanan Rantai Pangan

Sebanyak 30 peserta dari kalangan penggiat sosial, akademisi lingkungan, pegiat komunitas, dan masyarakat umum memadati area diskusi. Para peserta diajak menelusuri bagaimana perubahan cuaca ekstrem langsung memukul sendi-sendi produksi tani, memutus jalur distribusi, hingga menurunkan mutu gizi keluarga di tingkat akar rumput.

Gangguan lingkungan bukan lagi ancaman berjarak jauh. Banjir berkepanjangan dan kemarau ekstrem secara langsung memangkas hasil panen serta melambungkan harga komoditas pangan pokok di pasar tradisional.

Inovasi Kebun Gizi Apung dan Pangan Lokal

Menjawab tantangan tersebut, para narasumber memaparkan solusi terapan yang telah terbukti di lapangan. Salah satu terobosan yang menarik perhatian adalah Kebun Gizi Apung. Praktik ini memungkinkan warga di wilayah rawan banjir dan lahan basah tetap memproduksi sayuran bernutrisi tanpa bergantung pada ketersediaan daratan kering.

Bersamaan dengan inovasi adaptasi lahan, penguatan bahan pangan lokal diangkat sebagai pilar penting kemandirian komunitas. Mengonsumsi hasil bumi asli daerah sendiri memotong rantai pasok panjang dan mengurangi ketergantungan pasokan antarpulau.

Diskusi juga menekankan peran sentral perempuan dan kelompok rentan. Kaum ibu dan perempuan di pedesaan merupakan pengelola utama asupan gizi keluarga. Ketika perempuan dibekali pengetahuan budidaya hemat lahan dan pemahaman nutrisi, ketahanan seluruh komunitas meningkat secara berkelanjutan.

Pertanian Regeneratif untuk Kelestarian Jangka Panjang

Dari sektor hulu pertanian, penerapan pertanian regeneratif menjadi kunci pemulihan tanah yang kelelahan akibat pupuk kimia berlebih. Metode ini memulihkan bahan organik tanah, meningkatkan daya serap air, dan menjaga kesuburan lahan untuk generasi mendatang.

Pergeseran menuju pertanian regeneratif membutuhkan pendampingan konsisten di lapangan:

  • Menjaga ekosistem tanah: Meminimalkan olah tanah dan memanfaatkan kompos alami guna mengembalikan mikroorganisme tanah yang produktif.
  • Mendampingi petani secara berkesinambungan: Membangun kepercayaan petani melalui uji coba bertahap agar tidak terjadi penurunan hasil drastis selama masa transisi.
  • Kolaborasi multisektor: Menghubungkan riset akademis, kebijakan pangan pemerintah, dukungan pembiayaan filantropi, dan akses pasar yang adil bagi petani kecil.

Melalui talkshow ini, Festival Inspirasi 2026 menegaskan bahwa merawat bumi dan memperkuat ketahanan pangan merupakan satu kesatuan langkah yang tak terpisahkan. Solusi pangan masa depan menuntut kerja bersama agar setiap keluarga Indonesia memiliki akses terhadap makanan yang sehat, cukup, dan berkeadilan.

Langkah nyata ini selaras dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, terutama SDG 2: Tanpa Kelaparan, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, SDG 15: Ekosistem Daratan, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Salam Inspirasi!

Dokumentasi Foto Tambahan