Oktober 13, 2026
Ketika Aksi Lingkungan Jadi Sumber Penghasilan: Koppling Buktikan Gerakan Lingkungan Bisa Bernilai
Persoalan sampah di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan tingginya volume [...]

Persoalan sampah di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan tingginya volume sampah yang dihasilkan, tetapi juga dengan masih terbatasnya pengelolaan sampah sejak dari sumbernya. Sampah organik, seperti sisa makanan dan sampah dapur, menjadi salah satu komponen penting dalam persoalan tersebut. Padahal, jenis sampah ini memiliki potensi untuk diolah kembali menjadi produk yang bermanfaat apabila dipilah dan dikelola dengan tepat.
Urgensi pengelolaan sampah dari sumbernya semakin relevan seiring dengan arah kebijakan pengelolaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang mendorong agar sampah yang dikirim ke tempat pemrosesan akhir merupakan sampah residu. Perubahan pendekatan ini menegaskan pentingnya pengurangan dan pengolahan sampah sebelum mencapai tempat pemrosesan akhir, termasuk melalui pemilahan dan pemanfaatan sampah organik di tingkat rumah tangga maupun komunitas.
Namun, perubahan sistem pengelolaan sampah tidak dapat hanya bergantung pada kebijakan dan fasilitas pengolahan. Keterlibatan masyarakat dalam membangun kebiasaan memilah dan mengolah sampah juga menjadi bagian penting dari upaya tersebut.
Berangkat dari kebutuhan itu, Yayasan Inspirasi Indonesia Membangun (YIIM) menghadirkan Komunitas Pemuda Peduli Lingkungan (Koppling), sebuah inisiatif yang mendorong pemuda mengambil peran aktif dalam membangun praktik pengelolaan lingkungan di wilayah masing-masing.
Melalui kolaborasi dengan Karang Taruna, Koppling berupaya menjadikan pemuda sebagai penghubung antara edukasi lingkungan dan aksi nyata di masyarakat. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan pengetahuan, tetapi juga mendorong peserta untuk mempraktikkan dan menyebarluaskan cara pengelolaan sampah yang sesuai dengan karakteristik wilayahnya.
Rangkaian Koppling diawali dengan pembekalan perwakilan Karang Taruna dari lima wilayah berbeda di Jakarta Selatan bersama mitra fasilitator yaitu Teman Pilah. Pembekalan ini memberikan pemahaman dan pengalaman praktik mengenai pengelolaan sampah, termasuk pemanfaatan sampah organik melalui pengolahan eco enzyme.
Pengetahuan tersebut kemudian dibawa ke ruang publik melalui demonstrasi Koppling dalam Festival Inspirasi 2026 yang berlangsung di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, pada 8 Agustus 2026. Para peserta mempraktikkan pengolahan sampah sekaligus memperkenalkan alternatif pemanfaatannya kepada masyarakat.
Setelah demonstrasi tersebut, para peserta melanjutkan aksi di wilayah masing-masing melalui kegiatan sosialisasi dan praktik bersama masyarakat. Bentuk kegiatan disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah, sehingga pendekatan yang dilakukan tidak bersifat seragam, melainkan relevan dengan kondisi masyarakat setempat.
Salah satu perkembangan terbaru datang dari Karang Taruna Cipedak. Praktik pengolahan berbasis eco enzyme yang dikembangkan dalam rangkaian Koppling kini mulai menunjukkan potensi ekonomi. Karang Taruna Cipedak telah menerima pesanan sabun eco enzyme yang mereka produksi.
Perkembangan ini memperlihatkan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya dapat memberikan manfaat bagi lingkungan, tetapi juga membuka peluang pengembangan produk bernilai ekonomi. Dari proses belajar dan praktik sederhana, para pemuda mulai melihat potensi untuk mengembangkan hasil pengolahan menjadi produk yang diminati masyarakat.
Bagi YIIM, perkembangan tersebut menjadi bagian dari tujuan Koppling untuk mendorong pemuda menjadi agen perubahan yang mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi aksi berkelanjutan. Dengan menghubungkan edukasi, praktik, dan potensi ekonomi, Koppling berupaya membangun gerakan lingkungan yang tidak berhenti pada kegiatan sesaat, tetapi dapat terus tumbuh di tengah masyarakat.
Salam Inspirasi!
Dokumentasi Foto Tambahan





