Agustus 8, 2026

Less Trend More Impact: Mendorong Konsumsi Sadar dan Transformasi Industri Fashion Berkelanjutan

Pilihan pakaian tidak hanya berkaitan dengan tren dan penampilan sehari-hari, [...]

Informasi Program

Nama Program

Festival Inspirasi 2026: Talkshow Less Trend More Impact (Konsumsi Sadar dan Transformasi Industri Fashion)

Tanggal

Agustus 8, 2026

Fokus Program

SDGs

Mitra Kolaborator

Penerima Manfaat / Peserta

Sebanyak 30 orang peserta dari kalangan penggiat lingkungan, akademisi, komunitas peduli fashion berkelanjutan, dan masyarakat umum.

Lokasi

Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, DKI Jakarta

Aktivitas Utama

Diskusi panel interaktif mengenai tantangan fast fashion, rantai pasok industri tekstil, dan konsumsi sadar; edukasi pemilahan kebutuhan belanja dan perpanjangan usia pakai pakaian; sesi tanya jawab bersama peserta; penyerahan sertifikat apresiasi kepada narasumber dan moderator; serta sesi foto bersama.

Capaian yang Diharapkan

Meningkatnya pemahaman kritis masyarakat dalam memilih dan merawat pakaian guna menekan timbulan sampah tekstil, terbukanya ruang dialog konstruktif antara pelaku industri dan konsumen, serta terjalinnya kemitraan strategis dalam mendorong ekosistem fashion yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Share the word!
Diskusi panel talkshow Less Trend More Impact di Festival Inspirasi 2026 menghadirkan para narasumber industri tekstil dan keberlanjutan

Pilihan pakaian tidak hanya berkaitan dengan tren dan penampilan sehari-hari, tetapi juga membawa konsekuensi nyata bagi kelestarian lingkungan. Isu fast fashion dan pola konsumsi berlebih menjadi bahasan mendalam dalam talkshow bertajuk “Less Trend, More Impact: Konsumsi Sadar Menuju Transformasi Industri” yang digelar pada rangkaian Festival Inspirasi 2026 di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Forum diskusi ini mempertemukan para praktisi dan penggiat keberlanjutan lintas sektor, yaitu Rizal Tanzil Rahman (Sustainability Manager PT Pan Brothers Tbk sekaligus Board Member Rantai Tekstil Lestari), Muhammad Isnaeni Setiawan (Head of CSR PT Insight Investments Management), Nana Nurwaesari (Founder Sustainable Fashion Indonesia), serta Chyntia S. Lestari (Founder Lyfe with Less). Jalannya diskusi dipandu oleh Putri Nabilah Mumtaz, praktisi dan kreator konten fashion berkelanjutan.

Melihat Dampak Fashion dari Hulu hingga Hilir

Sebanyak 30 peserta dari berbagai latar belakang menyimak telaah kritis mengenai siklus hidup tekstil. Para narasumber mengajak publik membedah persoalan mode dari dua sisi yang saling berkelindan: rantai pasok industri manufaktur dan perilaku konsumen di hilir.

Dari sisi industri, tekanan untuk memproduksi pakaian murah dalam waktu singkat kerap mengorbankan sumber daya alam, memicu pemborosan air, serta menghasilkan residu limbah pewarna kimia. Pelaku manufaktur dituntut menerapkan prinsip sirkularitas, efisiensi energi, dan pemilihan serat ramah lingkungan agar jejak karbon rantai pasok tekstil dapat ditekan secara terukur.

Pada saat bersamaan, konsumen memegang kunci penggerak perubahan melalui kebiasaan berbelanja. Transformasi industri tidak akan berjalan tanpa pergeseran pola pikir masyarakat dalam membeli, memakai, dan merawat busana.

Membiasakan Konsumsi Sadar dalam Keseharian

Konsumsi sadar bukan berarti membatasi diri untuk tidak lagi menikmati keindahan berpakaian. Pendekatan ini justru mengajak masyarakat membangun relasi yang sehat dan menghargai nilai dari setiap helai pakaian yang dimiliki.

Para pembicara membagikan langkah praktis yang dapat segera diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:

  • Menimbang kebutuhan sebelum membeli: Menghentikan kebiasaan belanja impulsif yang semata-mata dipicu oleh tawaran diskon musiman atau perputaran tren kilat di media sosial.
  • Mengutamakan mutu dan ketahanan: Memilih material pakaian berkualitas yang tahan lama sehingga dapat dikenakan berulang kali dalam kurun waktu panjang.
  • Memaksimalkan pakaian yang ada: Mengeksplorasi padu padan gaya (*mix and match*), merawat serat kain sesuai instruksi pencucian, serta memperbaiki busana yang rusak alih-alih langsung membuangnya.

Melalui dialog interaktif ini, Festival Inspirasi 2026 menegaskan bahwa ekosistem mode yang berkelanjutan membutuhkan kerja bersama. Upaya produsen menghadirkan proses produksi yang bertanggung jawab harus disambut dengan konsumen yang kritis dan bijak, demi mencegah penumpukan limbah tekstil di tempat pembuangan akhir dan menjaga bumi tetap lestari.

Inisiatif ini mendukung langsung capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur, SDG 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, SDG 13: Penanganan Perubahan Iklim, serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan.

Salam Inspirasi!

Dokumentasi Foto Tambahan